Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Kekerasan emosional pada anak, ini dampaknya hingga dewasa

Kekerasan emosional pada anak, ini dampaknya hingga dewasa

Share your love

Jakarta (Foros Tanah Laut) – Kekerasan terhadap anak dideskripsikan sebagai tindakan yang sengaja menyakiti atau menganiaya anak di bawah usia 18 tahun dengan tidak semestinya. Kekerasan terhadap anak dapat berbentuk fisik, emosional, seksual, dan lainnya.

Kekerasan emosional biasanya lebih sulit untuk dideteksi karena tidak menimbulkan luka fisik. Biasanya kekerasan ini akan menular di dalam keluarga. Contohnya yaitu, saat seorang ayah melakukan kekerasan emosional kepada ibu maka sang ibu akan melampiaskan kepada anaknya.

Perlakuan membentak, merendahkan, mengkritik dengan berlebihan, menuntut anak di luar kemampuan, mencaci, dan perilaku negatif lainnya akan menimbulkan dampak serius bagi anak hingga ia dewasa.

Mengapa kasus kekerasan terhadap anak sering terjadi?

Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kasus kekerasan dan penelantaran anak banyak terjadi di Amerika Serikat dengan perbandingan satu dari tujuh anak menjadi korbannya.

Anak yang hidup dalam kemiskinan lebih rentan menjadi korban kekerasan. Kondisi yang tidak sejahtera akan meningkatkan rasa stres bagi orang tua sehingga mereka melampiaskannya dengan menelantarkan dan melecehkan anaknya.

Kekerasan secara emosional memang tidak meninggalkan bekas luka, tetapi akan meninggalkan luka batin yang mendalam bagi korbannya. Kondisi ini sama bahayanya dengan kekerasan fisik atau seksual.

Baca juga: KPPPA dukung tuntutan 10 tahun penjara Kepala Daycare Little Aresha

Dampak dari kekerasan emosional

Penelitian membuktikan bahwa kekerasan emosional memiliki dampak yang sama seriusnya dengan kekerasan fisik. Kekerasan emosional akan meninggalkan luka batin yang tidak terlihat seperti meragukan diri sendiri, merasa tidak berharga, bahkan membenci dirinya sendiri.

Apabila tindakan tersebut dibiarkan terlalu lama, korban kekerasan akan kehilangan jati dirinya. Mereka akan mempercayai bahwa dirinya memang sesuai dengan ujaran negatif dari orang lain. Hal ini akan membuat korban sering menyalahkan dirinya terus-menerus.

Korban kekerasan saat masa kanak-kanak akan mengalami dampaknya hingga ia dewasa. Trauma dari perilaku kasar tersebut akan menghasilkan luka batin yang akan bertahan dalam waktu yang panjang. Bahkan beberapa orang tua akan tetap mengontrol kehidupan anaknya dan merendahkannya hingga mereka dewasa.

Saat dewasa, mereka akan rentan untuk mengalami depresi, kecemasan, trauma, gangguan makan, tidak percaya diri, hingga mengalami masalah pekerjaan. Pengalaman traumatis tersebut akan mempengaruhi cara seseorang memperlakukan orang lain yang dapat memperbesar peluang mereka untuk menciptakan hubungan yang penuh kekerasan dengan orang lain.

Verywell Mind mengatakan bahwa mereka juga akan kesulitan untuk membangun hubungan yang sehat. Tingkat kepercayaan diri yang rendah akan membuat mereka merasa dirinya tidak cukup baik bagi orang lain. Kondisi ini akan membuat mereka memilih untuk mengisolasi diri dari orang lain.

Baca juga: Menko PMK pacu kolaborasi tekan kekerasan pada perempuan dan anak

Baca juga: Lindungi anak di ruang digital, KemenPPPA tekankan integrasi kebijakan

Pewarta: Raissa Kusuma Hapsari
Editor: Nurul Huda 
Copyright © Foros Tanah Laut 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Foros Tanah Laut.

Bagikan berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay informed and not overwhelmed, subscribe now!